Muhammad Andan Pramesta
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas
Hasyim Asy’ari.
2015
2015
ABSTRAK
Indonesia merupakan negara kepulauan yang masih
berkembang dari segala sisi. Oleh karena itu Indonesia memerlukan terobosan
untuk memajukan pembangunan dari segi sosial, ekonomi maupun ilmu pengetahuan.
Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS)
merupakan salah satu terobosan untuk tujuan tersebut. Rencana
Pembangunan JSS memang memiliki manfaat sangat baik dari segi sosial, ekonomi
maupun ilmu pengetahuan khususnya pada disiplin ilmu teknik sipil. Namun dari
sisi geologi pembangunan JSS memiliki resiko bahaya yang tinggi. Dari sisi
geologi pembangunan JSS itu bisa menghilangkan manfaat-manfaat dari segi
sosial, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan. Itulah yang menjadikan pembangunan
JSS tidak menguntungkan. Pembangunan JSS bisa digantikan dengan solusi-solusi
lain yang lebih bisa diterima untuk mencapai tujuan memajukan pembangunan
sosial, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan di Indonesia.
Kata kunci : Pembangunan, Jembatan Selat Sunda
(JSS), Geologi, Resiko
ABSTRACT
Indonesia is an archipelago that is still growing on all sides. Therefore, Indonesia needs a breakthrough to advance the development of social, economic and science. Development plans Sunda Strait Bridge (JSS) is one of the breakthrough for the purpose. JSS Development Plan has very good benefits in terms of social, economic and science, especially in the civil engineering disciplines. But in terms of the geological development of JSS has a high risk of danger. From the geological development of JSS it could eliminate the benefits in terms of social, economic, and science. That is what makes the JSS construction is not profitable. JSS construction can be replaced by other solutions that are more acceptable to achieve the goal of promoting social development, economics, and science in Indonesia.
Keywords: Development, Sunda Strait Bridge (JSS), Geology, Risk
PENDAHULUAN
Keberhasilan pembangunan daerah atau negara dapat
ditentukan dari sumber daya alam, sumber daya manusia dan sarana prasarana
pendukung lainnya. infrastruktur yang tersedia pada daerah atau negara
merupakan salah satu faktor kuat pendukung keberhasilan pembangunan daerah
ataun negara untuk mendukung mobilitas sumber daya manusia yang ada pada daerah
atau negara tersebut serta memperlancar pembangunan secara berkelanjutan.
Keadaan infrastruktur yang baik akan memperlancar pembangunan baik secara
sosial maupun ekonomi. Kategori dasar
pembangunan infrastruktur diantaranya adalah pembangunan jalan raya, rel kereta
api, pelabuhan laut, bandara udara dan jembatan penghubung, sedangkan prasarana
sebagai alat pengangkutan antara lain mobil, truk, kereta api, kapal, pesawat.
Indonesia merupakan negara berbentuk maritim atau
negara kelautan yang terdiri atas banyak pulau. Itulah yang menyebabkan sebaran
penduduk di Indonesia tidak merata sehingga pembangunan daerah-daerah di
Indonesia tidak merata pula. Untuk saat ini sentralisasi pulau Jawa sangatlah
kuat sehingga pembangunan-pembangunan di pulau Jawa lebih intensif dibanding
dengan daerah lain baik secara pembangunan infrastruktur, sosial, maupun
ekonomi. Dengan sebab itu maka kini banyak rencana pembangunan untuk penyebaran
pembangunan secara merata yang salah stunya adalah rencana pembangunan Jembatan
Selat Sunda atau disingkat menjadi JSS yang menghubungkan pulau Jawa dan pulau
Sumatera.
Sumatera adalah pulau di bagian barat Indonesia dan
dekat pulau Jawa dengan sekat selat Sunda dimana secara letak berada dalam dua
Provinsi yaitu Provinsi Lampung dan Provinsi Banten. Di selat Sunda itulah direncanakan
pembangunan jembatan dengan tujuan sebagai penghubung pulau Jawa dengan Pulau
Sumatera. Dengan penghubung itulah diharapkan akan mempercepat dan memperlancar
pembangunan Indonesia. Itu merupakan sebuah mega rencana yang sudah dibahas
sejak lama hingga saat ini. Dengan harapan-harapan yang besar itu kita juga
perlu pertimbangan dari sisi lain yaitu sisi geologi.
Dari sisi geologi JSS berada dekat dengan anak
Gunung Krakatau dan juga berada di atas lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Itu
menempatkan JSS pada tempat yang berbahaya pada sisi geologis.
METODE
PENULISAN
Penulisan ini berdasar pada studi literatur dengan
membaca dari berbagai sumber kemudian mengambil sisi-sisi penting yang
dibutuhkan untuk penulisan ini. Dengan sumber-sumber itu penulis menyaring
intisari dan mengambil kesimpulan untuk ditulis dan juga sumber tersebut
menjadi pembanding dari sumber yang lain.
ANALISIS
PEMBAHASAN
Berawal dari usulan Prof.
Sedyatmo tahun 1960 tentang harus adanya penghubung antara pulau Jawa dengan
pulau Sumatera yang ditanggapi oleh Ir. Soekarno sehingga pada tahun 1965
beliau memerintahkan ITB untuk melakukan uji coba desain penghubung pulau Jawa
dengan pulau Sumatera maka sampai sekarang inilah masih dibahas tentang rencana
pembangunan JSS. Pada tahun 2009 Presiden membentuk timnas pembangunan JSS
dengan Keppres No. 36 Tahun 2009 Pembentukan TimNas JSS (28
Desember 2009) yang kemudian
dilanjutkan dengan Kepmenko No. KEP-29/M.EKON/05/2010 Pembentukan
Sekretariat dan Kelompok Kerja Tim Nas (25 Mei 2010) dan KepmenPU No.
584/KPTS/M/2010 Penetapan Susunan Anggota Sekretariat, Susunan
Anggota Serta Tugas Kelompok Kerja dan Eksekutif Sekretariat TimNas (26
November 2010) yang kemudian keluarlah Perpres No. 86 Tahun 2011 “Pengembangan
Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda” (2 Des 2011) maka
terbentuklah tim tujuh yang membahas pembangunan JSS.
Memang pembangunan JSS ini
memiliki prospek yang sangat bagus dan memiliki cukup banyak manfaat. Manfaat
pembangunan JSS antara lain :
1.
Mengembangkan kawasan ekonomi baru
2.
Mempercepat perkembangan Pulau Sumatera
3.
Mengurangi sentralisasi ekonomi di Pulau
Jawa
4.
Menciptakan kesempatan kerja
5.
Sebagai laboratorium bangsa.
Apalagi dengan melihat visi Indonesia
2025 “Mengangkat
Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia di tahun
2025 dan 8 besar dunia pada tahun 2045 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang
inklusif dan berkelanjutan” dan melihat kesuksesan pembangunan Jembatan Suramadu
sebagai penghubung Surabaya dengan Madura di Jawa Timur semakin menguatkan
posisi rencana pembangunan JSS.
Namun, posisi JSS dengan
Jembatan Suramadu sangatlah berbeda. JSS memiliki bentang jembatan yang jauh
lebih panjang dari Jembatan Suramadu. JSS juga sangat bebeda dengan Jembatan
Suramadu dari sisi geografi dan geologi. Pembangunan JSS harus di analisa
secara geologi karena pada dasarnya pembangunan itu di atas bumi (geo) maka setiap pembangunan harus memerhatikan
faktor bumi tersebut. JSS berada pada tempat dengan resiko geologi yang sangat
berbahaya. Analisa geologi JSS antara lain:
1.
Geologi Lingkungan, Selat Sunda
merupakan wilayah dengan kegempaan tinggi di Indonesia, terdapat berbagai model
jenis bencana universal antara lain bencana gempa, tsunami tektonik, tsunami
gunungapi, tsunami gerakan tanah, letusan gunungapi aktif, cuaca dan iklim
ekstrim, gerakan tanah bawah permukaan akibat pecahnya kerak bumi pada kejadian
geologi masa lalu.
2.
Geologi Tektonik, merupakan daerah
yang labil, merupakan daerah dengan percepatan deformasi kerak bumi yang terus
menerus mengalami tekanan, penumbukan, penghancuran dan pelumatan kedalam bumi
oleh gerak lempeng Indo-Australia ke lempeng Eurasia.
3.
Dari sudut Geologi Vulkanologi,
Selat Sunda merupakan kawasan kumpulan gunungapi aktif, harus memperhitungkan
munculnya aktivitas magmatis, terdapat gunung tua di Lampung Selatan dan
Banten, zona peralihan tektonik aktif antara Sumatera dan Jawa. Lebih tegasnya
merupakan titik lemah bola bumi Indonesia yang telah memisahkan Pulau Sumatera
dengan Jawa.
4.
Dari sudut Geologi Paleomagnetik
Kelautan merupakan kawasan tingkat kecepatan fluida air yang tidak beraturan,
banyak terdapat kerentanan anomali air yang tinggi, arus turbiditas air bawah
permukaan laut yang mudah menyebabkan longsor di ujung patahan Sumatera di
Selat Sunda yang mungkin saja terjadi, percepatan rambat gelombang seismik
kepermukaan cukup tinggi dengan harus memperhitungkan pengulangan gempa
berdasarkan sifat supsitibilitas magnetik, percepatan arus angin dan tekanan
energi lateral pada kekuatan tanah dan batuan yang dapat mempengaruhi kekuatan
bangunan jembatan, dapat mempengaruhi kondisi keausan konstruksi JJS
5.
Dari sudut Geologi Seismologi,
aktivitas seismik sangat tinggi di kawasan Selat Sunda, tingkat percepatan
rambat energi seismik dapat mencapai 9.0 SR, segala jenis bencana gempa dan
tsunami ada diwilayah ini, sebab perubahan kerak bumi yang luas menyebabkan
penurunan tanah dapat terjadi tiba-tiba, ada pembebanan lempeng muda yang
menumpuk di atas lempeng tua. Tinggi gelombang tsunami dapat mencapai 25 meter
dengan kedangkalan gempa 70 km dengan kecepatan mencapai jembatan 75 menit
dalam radius 50 km dari pusat subduksi di Selatan Jawa. Simulasi tsunami GA
Krakatau memperlihatkan penjalaran tsunami dengan estimasi tsunami disekitar
lokasi JJS sebesar 25 meter dalam waktu 43 menit ke JJS.
6.
Dari sudut Geologi Stratigrafi,
merupakan kawasan perlapisan platform yang tipis, ketebalan lapisan 30-70 km
dan telah mengalami perubahan deformasi lantai dasar akibat letusan gunungapi
Krakatau sejak zaman purba hingga ke era modern. Lapisan stratigrafi yang
sekarang merupakan sedimentasi dan batuan tidak padat. Lempeng yang terbentuk
di kawasan pantai barat hingga ke Selat Sunda merupakan “daur ulang” pemekaran
lantai dasar samudera. Lantai dasar selat sunda sekarang merupakan bagian dari
permukaan P. Jawa-Sumatera yang tenggelam, terobek dan membentuk kawasan
hiperlabil.
7.
Dari sudut Geologi Teknik, akan ada
penurunan tanah karena stratigrafi yang tidak padat, susunan batuan yang tidak
homogen sehingga perambatan gelombang semakin cepat kepermukaan untuk
menghasilkan hasil kerja gempa, yaitu likuafaksi, amplipikasi, dan gerakan
tanah.
8.
Geologi Struktur, sudah jelas
merupakan kawasan jalur sirkum patahan bumi dan zona gunungapi aktif, berusia
muda, memiliki bangun arsitekur yang kompleks, zona subduksi lempeng, zona
kawasan prisma akresi, zona persinggungan gempa tektonik dengan vulkanisme,
berkorelasi dengan jenis patahan lokal dan regional. Tiga patahan aktif regional
yang terletak pada radius di bawah 50 km didaratan Sumatera dan dasar laut
Selat Sunda adalah patahan aktif Teluk Lampung. Patahan aktif Panaitan/Rajabas
dan patahan aktif Sukadana, dan didaratan Jawa dengan patahan aktif
Banten,
9.
Geologi Sejarah Kebencanaan,
pembangunan JSS harus memperhitungkan informasi geologi, bahwa kejadian masa
lalu merupakan cermin kejadian masa sekarang dan masa sekarang sebagai gambaran
masa mendatang, bahwa bencana yang pernah terjadi akan terjadi lagi pada tempat
yang sama dengan intensitas kejadian yang berbeda, bahwa gunung api, tsunami
dan gempa bisa terjadi lagi dengan kemungkinan gempa lebih besar. Sejarah telah
mencatat sejak tahun 1453 hingga 1883 GA Krakatau di selat sunda berulangkali
meletus. Usia 1883 ke era sekarang telah mendekati siklus pelepasan energi
yaitu 2083 dan pembangunan JSS diperkirakan selesai tahun 2025.
Dengan analisis geologi seperti
itu maka pembangunan JSS sangatlah berbahaya dan bisa menghancurkan
manfaat-manfaat dari pembangunan JSS.
KESIMPULAN
JSS merupakan rencana besar
pembangunan di Indonesia dengan analisa manfaat yang sangat baik yaitu dari
sisi pembangunan sosial, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan. Namun dari sisi
geologi JSS memiliki resiko yang sangat buruk. Dengan keadaan bumi yang tidak
mendukung pembangunan tidak akan berjalan dan bangunan juga tidak akan bertahan
dengan baik. Dengan keadaan seperti itu pula manfaat-manfaat yang sudah
dianalisa bisa tidak menjadi apa-apa.
Jika pembangunan JSS didasarkan
atas harapan manfaat-manfaat di bidang pembangunan sosial, ekonomi dan pengembangan
keilmuan yang menuju kepada visi Indonesia 2025, maka masih banyak solusi lain
yang lebih bisa diterima dan memiliki
resiko lebih rendah daripada pembangunan JSS. Pembangunan PLTN,
pemerataan pembangunan dan perbaikan infrastruktur lain di setiap daerah,
pemaksimalan ekonomi setiap daerah, perbaikan fasilitas dan kualitas
pendidikan, serta masih banyak solusi-solusi lain untuk menggantikan
pembangunan JSS dengan analisa yang lebih bisa diterima dan dengan resiko lebih
rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Pradhitasari,
Handini., dan Syabri, Ibnu. (-) . Analisis Dampak Rencana Investasi
Jembatan Selat Sunda Terhadap Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Bandung
: Sekolah
Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan ITB.
Prasetyo,
Bonus. 2012. ANALISIS DAMPAK PENGOPERASIAN JEMBATAN SELAT SUNDA. Surabaya : Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh November.
Sianipar,
Robert, Purba,. 2012. JEMBATAN SELAT
SUNDA DAN KEPENTINGAN NASIONAL. Bandung : Sabuga (Sasana Budaya Ghanesa), Presentasi
seminar setengah hari dalam rangka memperingati hari kebangkitan nasional.
Rifa’i, Yasir, Dirham,. Noormaya, Fatma, Khodijah,.
Sultoni, Lutfi,. Nurunnafissa, Maulida., dan S.T., M.T., Nugroho, Wahyu, Meriana.
2015. ANALISIS
DAMPAK DAN BAHAYA PEMBANGUNAN JEMBATAN SELAT SUNDA. Jurnal tidak diterbitkan. Jombang : Jurusan Teknik
Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasyim Asy’ari.






0 komentar:
Posting Komentar